Breaking News

CATATAN MAKASSAR BELA NEGARA “ Menyembuhkan Nasionalisme yang Sakit “


Perjalanan subuh

Langit masih gelap saat sejumlah bus pemkot Makassar beriringan meniti jalanan berkelok ke arah selatan. Di dalam bus – bus itu, ratusan pegawai negeri sipil yang tengah menyandang jabatan setingkat eselon empat memenuhi deretan kursi – kursi bersama dengan ransel serta ember yang di bawa dari rumah. Dari wajah – wajah mereka, bisa di taksir batasan usia antara 30 hingga 40 an tahun, bahkan mungkin ada yang sudah mendekati 50 tahun.
 Mereka ( termasuk penulis )  adalah PNS Pemkot Makassar yang menjadi peserta bela negara angkatan ke dua yang merupakan kerjasama Pemkot Makassar dengan Rindam VII Wirabuana. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari ( 18-20/4/2016 ), di markas Resimen Induk VII, Pakkatto, kabupaten Gowa. Total jumlah yang mengikuti pendidikan bela negara untuk tahun ini, sekitar 2000an PNS di lingkup Pemkot Makassar yang di gilir  secara bertahap. Mereka terdiri atas kepala sekolah, pejabat struktural, serta lurah yang ada di wilayah kota Makassar. Bukan hanya pejabat eselon IV,  rencananya, Walikota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto juga akan mewajibkan seluruh pejabat eselon III dan II untuk mendapatkan pendidikan  bela negara.


Sekitar 40 menit sejak beranjak dari tempat berkumpul di halaman kantor Badan Diklat kota Makassar,  kami tiba di kawasan Rindam VII Wirabuana. Di sudut langit, warna jingga yang memancar menghasilkan lukisan awan emas yang menambah perasaan takjub kepada Pencipta. Kami berada di sebuah kawasan hijau yang asri. Bagi yang sudah terlalu lama merasakan sesaknya suasana kota, kawasan ini menjadi semacam oase sekaligus mengobati kerinduan jiwa terhadap alam. Di sepanjang mata memandang, kita disajikan pemandangan pohon serta rumput – rumput layaknya permadani hijau menghampar di tanah lapang yang luas. Sejumlah bangunan yang berfungsi sebagai barak, kantor, gedung pertemuan, ruang makan, dan juga perumahan anggota TNI terlihat  berdiri dan terpisah diantara pepohonan dan  tanah lapang.

Lapangan Belneg

Tidak butuh waktu  lama untuk mengagumi tradisi dan budaya di lingkungan tentara. Sambil mengikuti instruksi untuk berkumpul di sebuah lapangan luas yang ditumbuhi rumput serta ditaburi segarnya embun pagi, saya terus mengamati sejumlah aktivitas mereka di awal hari. Sangat terasa budaya saling menghormati. Yang junior memberi hormat kepada senior setiap mereka berpapasan. Yang senior memberikan perintah, sedangkan yang junior melaksanakan perintah. Selain itu sangat jarang mereka  terlihat beraktivitas secara sendiri – sendiri. Budaya gotong royong dan kebersamaan sangat diutamakan. Termasuk dalam hal kebersihan, praktis tidak ada sampah , bahkan sampah sekecil puntung rokok sangat sulit kita dapatkan tercecer dijalan. Kami juga menyaksikan segerombolan tentara yang relatif masih berusia muda melakukan aktifitas lari pagi. Kami menikmati semangat mereka yang berlari sambil menyanyikan lagu – lagu perjuangan dengan penuh hentakan dan kegembiraan. Tiba – tiba saja, ada heroisme cinta Indonesia mengalir deras di dalam dada. Pun saya yakin, di rombongan kami yang baru datang juga merasakan heroisme yang sama.  

Di beberapa tempat strategis, terpasang papan bicara yang berisi kalimat motivasi yang membangkitkan rasa nasionalisme. “ Patuhlah terhadap perintah sebelum di perintah “, “ Meskipun sudah mendapatkan penggemblengan jasmani yang sehebat – hebatnya, tidak akan berguna jika kamu mempunyai sifat menyerah “, serta beberapa kalimat motivasi lain yang mengingatkan tentang kedisiplinan serta cinta  bangsa dan tanah air . 

“ Semua diam sekarang, tidak ada aktivitas, tidak ada yang bicara !!! “ teriak salah seorang pelatih yang berseragam loreng lengkap. Wajahnya penuh waspada dengan otot leher yang keras. Nyaris tidak ada senyum yang saya cari di wajahnya sejak tadi. Pandangannya menyisir barisan yang berusaha kami bentuk serapi mungkin. Saya menangkap rasa tidak puas di matanya. Terlihat ada yang ingin diluapkan dengan segera. Namun teriakan yang kami yakini akan meledak tidak jua menggema. Satu detik, dua detik berlalu dan masih hening. Sepatu laras hitam yang dikenakan seperti menancap permanen di rerumputan. Nyaris tidak ada gerakan sama sekali layaknya patung pahlawan di tengah kota.

 Ditengah kebingungan, kami berusaha mengikuti perintah, kendati di sejumlah sudut masih terdengar suara yang berbicara, meskipun terdengar samar. Mungkin itulah salah satu perbedaan sipil dengan militer dalam hal kedisiplinan.  Ternyata bukan hanya di rombongan kami mengambil posisi siap dan diam, di beberapa sudut, saya amati sejumlah anggota TNI juga menghentikan ativitasnya dan mengambil posisi diam dan siap. Berselang itu, sayup – sayup terdengar instrumen Indonesia Raya mengalun, yang entah sumbernya dari mana. Otak saya langsung bekerja dan  menyadari sedang berlangsung prosesi penaikan bendera merah putih. Mungkin tempatnya di lapangan sebelah yang terhalang pandangan oleh sebuah bangunan yang berfungsi sebagai kantor. Sebuah penghormatan untuk Sang merah putih, bendera negara kita, yang mungkin selama ini kerap kita sepelehkan. Bandingkan dalam keseharian kita, ketika di tempat –tempat umum, di pinggir jalan atau dimana saja saat berlangsung prosesi penaikan bendera merah putih, bisa dipastikan sebagian besar dari kita memilih cuek dan tidak ambil peduli. 

Lapangan Hitam

Di hari pertama, seluruh kegiatan hampir terpusat di lapangan untuk latihan baris berbaris, tata cara upacara, cara hormat. Selain stamina yang kuat, kegiatan ini juga  membutuhkan kemampuan bertahan dibawah terik sinar matahari. Mungkin inilah tantangan terberat selama proses pelatihan berlangsung. Apalagi jika latihan dilaksanakan di lapangan hitam. Inilah salah satu tempat yang menjadi momok bagi para peserta. Istilah lapangan hitam dimaksudkan karena seluruh hamparan lapangan menggunakan aspal hitam. Lapangan ini menjadi momok bagi peserta karena efek panas yang di timbulkan jauh lebih terik. Lagi – lagi kesabaran dan juga daya tahan tubuh sangat di butuhkan di sini. Bisa dibayangkan, sebagian besar peserta yang sehari – harinya banyak menghabiskan waktu di dalam ruangan yang ber AC tiba – tiba harus menghabiskan waktunya sepanjang hari di ruangan terbuka yang di siram dengan cahaya matahari yang panas. 

“ Belum ada orang yang meninggal disini gara – gara panas, berhenti menjadi manja “ lagi – lagi pelatih memekik lantang. Hampir seluruh otoritas di pegang oleh pelatih. Satu unit mobil Home Care bersama dokter dan petugas medis lainnya nampak berjaga – jaga di pinggir lapangan. Peserta yang merasa tidak kuat, atau mengalami gangguan kesehatan di bolehkan keluar dari latihan untuk selanjutnya di tangani oleh petugas dokter dan petugas medis. Aktiftas di lapangan hanya berhenti saat waktu shalat dan waktu makan saja. 

Kehidupan di Barak

Selama proses bela negara berlangsung, kami ditempatkan di sebuah barak yang di lengkapi dengan velbed ( tempat tidur lipat ) yang dijejer dengan rapi. Ukurannya memanjang dan bisa menampung hingga dua ratus  orang. Inilah yang menjadi ruang privat seluruh peserta selama proses pelatihan berlangsung. Ruangan ini dimanfaatkan untuk  istirahat, tidur, ganti baju, termasuk menyimpan peralatan pribadi yang kita bawa dari rumah, seperti tas, pakaian, perlengkapan mandi, termasuk perlengkapan makan. Tidak banyak waktu berdiam disini, kecuali saat tidur di tengah malam usai menyelesaikan sejumlah program latihan di tanah lapang. Waktu tidur pun tidak lama. Suara sempritan selalu on time memekakkan telinga tepat pukul tiga dinihari. Sempritan yang berbunyi  sekali penanda untuk segera bangun dan siap – siap. Sedangkan sempritan kedua penanda
bahwa seluruh peserta sudah harus berbaris rapi di lapangan. Bisa dibayangkan bagaimana hirup pikuk dan kepanikan yang terjadi di dalam barak. Ada yang menggerutu, bahkan tidak sedikit yang pura – pura tidak mendengar. Inilah disiplin tentara. Tidur terlelap bukan berarti tidak siap terhadap segala kemungkinan yang terjadi. Dengan gerakan terburu – buru, kami harus mengenakan segala properti yang wajib dipakai setiap latihan, baju loreng, sepatu, dan juga topi baja. 



Hiruk pikuk di Hari kedua

Kegiatan di awali dengan senam kebugaran selama kurang lebih satu jam. Senam di pukul tiga tentu bukan hal yang biasa di lakukan. Menguap dengan mata setengah tertutup menjadi pemandangan yang cukup menghibur. Namun itu tentu tidak berlangsung lama. Suara nyaring para pelatih mengusir seluruh rasa kantuk yang tersisa. Gerak dan kuatnya teriakan mereka tidak berbeda di kala siang.  

Setelah menjalankan berbagai instruksi gerakan senam, para peserta bergegas kembali ke barak untuk persiapan shalat subuh. Sebagian memanfaatkan waktu yang sempit itu untuk merebahkan badan di atas velbed. Dimasa pelatihan, waktu – waktu antara seperti itu sungguh sangat berarti. Diluar barak, sejumlah pelatih tetap setia berjaga dan mengawasi. Kelincahan memanfaatkan waktu jedah sangat dibutuhkan. Bahkan tidak sedikit yang merancang dua aktifitas dalam satu gerakan. Kaki melangkah ke masjid, namun peralatan mandi ikut serta ditangan. Ini untuk mengantisipasi antrian panjang di kamar mandi umum. Kebetulan jarak dari barak ke masjid cukup jauh sehingga pilihan untuk mandi di wc masjid tidak banyak yang lakukan. Namun itu hanya terjadi di subuh pertama. Informasi mengenai “ representatif “ nya WC di masjid sangat cepat menyebar dari mulut kemulut. Walhasil, di hari kedua dan ketiga, WC masjid ikut menjadi arena hiruk pikuk di setiap waktu mandi tiba. 

Sarapan ala Tentara 

Luasnya lebih lapang dibanding dengan barak yang kami tinggali. Di ruang makan ini, ratusan meja dan kursi di jejer panjang menyerupai kelas. Kursi – kursi di susun berhadapan diantara meja panjang. Diatas meja, makanan sudah  tersaji didalam wadah untuk setiap peserta. Jangan bandingkan nikmatnya sarapan saat di rumah dengan sarapan pada saat bela negara. Selain tidak bisa memilih menu makanan yang di inginkan, sarapan saat bela negara penuh aturan dan disiplin yang tinggi. Tidak jarang kesalahan yang dilakukan seorang peserta harus ditanggung oleh seluruh peserta lain. Ada – ada saja yang masuk kategori pelanggaran, mulai dari suara yang berisik, cara duduk yang salah, hingga cara makan yang salah. Terkadang, proses sarapan membutuhkan waktu yang lama akibat banyaknya hukuman yang harus di jalani. Saat sedang makan pun tidak bisa serileks saat makan di tempat lain.

 “ Di hitungan sepuluh, makanan didepanmu sudah harus habis, satuuu .. duaaa … “ teriak pelatih dengan lantang. 
Rappeling, Flyng Fox, Merayap di atas tali

Di hari kedua, program latihan tetap di fokuskan di lapangan terbuka. Namun kali ini di lapangan yang ditumbuhi rumput hijau diseluruh permukaannya. Praktis sepanjang hari, para peserta berkumpul di sekitar tower atau tebing buatan. Di sini para pelatih mengajarkan cara melakukan rappelling atau tekhnik menuruni tebing menggunakan tali, termasuk juga tekhnik memasang sabuk pengaman yang diikatkan di pinggang. Selain itu ada juga fasilitas flyng fox yang sepanjang kegiatan lebih banyak di manfaatkan oleh peserta perempuan. Selain itu, juga di praktekkan cara menyeberangi sungai dengan merayap di atas tali. Lokasi sungai yang memang hanya beberapa meter dari tebing buatan membuat suasana hiruk pikuk lebih terasa. Di hari kedua para peserta terlihat lebih enjoy dan menikmati setiap program pelatihan yang di berikan. Sejak hari pertama, di setiap kesempatan, para pelatih selalu mengingatkan tentang kedisiplinan, tepat waktu, rasa cinta kepada bangsa dan negara. 

“ Membela negara itu tidak mesti angkat senjata dan ikut berperang. Kalian cukup bekerja dengan baik, tidak korupsi, melayani masyarakat yang membutuhkan, itupun sudah bagian dari bela negara “ lanjut salah seorang pelatih. Tidak jarang peserta mengeluarkan uneg – uneg. Bahkan sejumlah kepala sekolah yang menanyakan tata cara upacara bendera yang setip senin mereka lakukan di sekolahnya. Pun saat waktu jedah berlangsung, para peserta dan pelatih berbaur dan saling bertukar pengalaman. Sikap tegas, wajah yang tidak pernah senyum sepanjang latihan berubah menjadi sangat ramah diwaktu jedah. Mungkin itulah karakter tentara, saat bertugas mereka tidak ada kompromi, tapi di waktu senggang, mereka penuh dengan keakraban dan keramahan.

Belum ada potensi Perang untuk Indonesia dua puluh tahun kedepan

Di malam terakhir pelaksanaan bela negara diisi dua kegiatan yang berbeda, yang pertama di dalam ruangan dan selebihnya di lapangan terbuka dibawah langit gelap.  Sebuah gedung pertemuan yang ada di sisi timur menjadi fokus kita berikutnya. Agendanya mendengarkan materi bela negara yang di bawakan oleh salah seorang petinggi Rindam VII Wirabuana. Materi seputar bela bela negara, cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara termasuk kesaktian Pancasila sebagai ideologi negara. Juga dijelaskan tentang perbedaan bela negara dengan wajib militer yang banyak diterapkan di sejumlah negara. 

Di sesi tanya jawab, sejumlah peserta di beri kesempatan untuk bertanya. “ Jika terjadi perang, bagaimana kesiapan TNI kita “ salah satu pertanyaan dari peserta yang menarik fokus saya. Dijelaskan hasil analisa militer, untuk dua puluh tahun kedepan belum di temukan potensi terjadinya perang yang mengancam kedaulatan bangsa Indonesia. Kecuali ancaman teroris seperti yang terjadi di Philipina saat ini. Selain itu juga dijelaskan modernisasi kekuatan alat utama system pertahanan TNI sejak pemerintahan SBY hingga era Jokowi saat ini. Sambil mendengarkan materi, saya mengingat kembali sejumlah  informasi yang banyak bertebaran di dunia maya mengenai prestasi TNI beberapa waktu lalu yang sukses menjadi juara pada kompetisi menembak Australian Army Skill Arm di Australia. Kontingen Indonesia yang di wakili tim TNI AD sukses memboyong 30 medali emas dari 50 medali yang disiapkan. Sebuah kebanggaan yang membuncah dada sebagian besar orang Indonesia. Bayangkan saja, kekuatan militer negara – negera adikuasa seperti Amerika serikat dan Australia yang selama ini selalu diagung – angungkan ternyata tidak berdaya ketika berhadapan penembak – penembak dari TNI AD. Demikian juga sewaktu mengecek daftar peringkat kekuatan militer dunia 2015/2016, Indonesia cukup membanggakan di posisi 12 , satu tingkat di bawah  Israel dan dan satu tingkat diatas Australia. 

Saat Hatimu bergetar melihat Merah Putih

Waktu masih separuh malam ketika kita berdiri melingkar ditengah lapangan. Langit yang mendung menyulitkan mata melihat bintang di hamparan luas semesta. Titik cahaya berada ditengah. Sebuah api unggun menyala cukup membantu melihat teman yang ada di sebelah. Tarian api yang meliuk –liuk ke udara. Titik – titik merah beterbngan  melayang terbawa angin ke atas dan hilang di ketinggian tertentu. Sayup – sayup kita diperdengarkan rentetan lagu – lagu perjuangan yang menyayat. Bergantian dengan suara perempuan yang membacakan semacam puisi tentang Indonesia. Mirip dijaman SMA, ketika mengikuti kegiatan perkemahan.  Rasa nasionalisme kita yang digugah disini. Membangkitkan sesuatu yang sudah lama meredup atau hilang sama sekali. Tentang sebuah pengabdian terhadap bangsa, tentang mengingat keringat dan nyawa pahlawan yang gugur di jaman perjuangan. 
Diujung prosesi di tengah malam dan suara binatang malam dikejauhan, para peserta bergiliran mendatangi bendera merah putih dan menciumnya. Memegang dan mencium sepenuh jiwa. Sebuah kain yang menjadi simbol dan lambang kemerdekaan. Kain dimana dulu butuh banyak pengorbanan dan nyawa untuk mengibarkan nya. Lawan merah putih bukan lagi penjajah dari luar. Lawan merah putih adalah penyakit yang dilahirkan anak – anaknya sendiri. Korupsi, narkoba, kemiskinan adalah penyakit yang mengancam kehormatan merah putih . Musuh tidak lagi dari luar, namun kini di dalam rahim ibu pertiwi. Merah putih memanggilmu sekali lagi. Tidak perlu angkat senjata, tidak perlu korbankan jiwa, getarkan hatimu untuk merah putih, bebaskan nafsu yang menjajah isi hatimu.













About Unknown

Unknown
Recommended Posts × +

0 komentar:

Posting Komentar